Perjalanan Mendapatkan Beasiswa LPDP – Part 1: Seleksi Berkas

Halo-halo!

Di tengah ke-gabut-an saya menunggu masa-masa awal tahun ajaran baru, saya memutuskan untuk buka blog lama ini dan nulis untuk sekadar berbagi pengalaman berburu beasiswa. Oh ya, update info dan latar belakang, saat saya menulis ini status saya sekarang adalah mahasiswa S2 di bidang data science in engineering di TU Eindhoven. Terimakasih kepada LPDP, berkat beasiswa LPDP saya mampu mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan studi di Eropa. Jadi, di post kali ini saya akan share mengenai perjalanan saya mendapatkan beasiswa LPDP.

1. Tahap Pra-Pendaftaran

Mempunyai keinginan untuk studi master sudah jadi keinginan saya saat duduk di bangku kuliah S1. Di semester terakhir saya kuliah, saya mengumpulkan informasi beasiswa mana saja yang tersedia dan mencatat informasi penting misalnya kapan periode pendaftarannya, apa saja syaratnya, universitas mana saja yang diperbolehkan, dan sebagainya. Beberapa beasiswa yang saya cari tahu di antaranya: Kominfo, ALSP, StuNed, Chevening dan LPDP. Saat itu, saya mencari informasi baik dengan bertanya langsung kepada para awardee masing-masing beasiswa maupun dengan searching di internet seputar pengalaman mereka. Saya memutuskan untuk mencoba peruntungan saya di beasiswa LPDP yang pendaftarannya dibuka sepanjang tahun.

Saya membaca syarat-syarat apa saja yang di perlukan untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Beberapa syarat pelamar beasiswa program master sebagaimana dikutip dari Booklet Beasiswa LPDP di antaranya:

Persyaratan Umum:
a. Warga Negara Indonesia (WNI);
b. Telah menyelesaikan studi program sarjana atau program magister dari:
   1. Perguruan Tinggi di dalam negeri yang telah terakreditasi oleh 
      Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), atau 
   2. Perguruan Tinggi kedinasan dalam negeri, atau
   3. Perguruan Tinggi di luar negeri yang telah terdaftar pada 
      Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
c. Memiliki karakter kepemimpinan, profesionalisme, nasionalisme, patriotisme, 
   integritas, memiliki kepercayaan diri, kegigihan, kemandirian, 
   kematangan dalam mengelola emosi, dan kemampuan beradaptasi;
d. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan / keilmuan / inovasi /
   kreasi / budaya;
e. Bersedia menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pelamar:
   1. Bersedia kembali ke Indonesia setelah selesai studi;
   2. Tidak sedang menerima/akan menerima beasiswa dari sumber lain;
   3. Tidak terlibat dalam aktivitas/tindakan yang melanggar hukum, atau 
      mengikuti organisasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila;
   4. Tidak pernah/akan terlibat dalam aktivitas/tindakan yang melanggar 
      kode etik Akademik;
   5. Selalu mengabdi untuk kepentingan bangsa Indonesia;
   6. Selalu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia;
   7. Sanggup memenuhi ketentuan beasiswa yang ditetapkan LPDP;
   8. Menyampaikan data dan dokumen yang benar, sesuai dokumen asli serta 
      bersedia menerima sanksi hukum yang berlaku apabila dokumen tersebut tidak sah.
f. Telah mendapatkan izin dari atasan bagi yang sedang bekerja;
g. Surat keterangan berbadan sehat dan bebas narkoba (untuk semua pelamar tujuan 
   dalam negeri serta luar negeri) dan untuk tujuan ke luar negeri ditambah dengan 
   bebas TBC yang dinyatakan oleh dokter dari Rumah Sakit Pemerintah; 
h. Telah mendapatkan rekomendasi dari tokoh masyarakat bagi yang belum/tidak 
   sedang bekerja, atau rekomendasi dari atasan bagi yang sedang bekerja;
i. Memiliki dan memilih bidang keilmuan yang sesuai dengan bidang keilmuan yang 
   menjadi sasaran LPDP;
j. Memilih program studi dan Perguruan Tinggi yang sesuai dengan ketentuan LPDP;
k. Menulis essay (500 sampai 700 kata) dengan tema: “Kontribusiku Bagi Indonesia: 
   kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / 
   instansi / profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”;
l. Apabila terdapat pemalsuan data atau dokumen maka pendaftar dinyatakan gugur dan 
   tidak berhak mendaftar lagi di LPDP;
m. Menyerahkan Surat Kelakuan Baik/ Suat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang 
   dibawa pada waktu seleksi wawancara;

Persyaratan Khusus:

1. Usia maksimum pelamar pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga 
   puluh lima) tahun,
2. Telah menyelesaikan studi pada program sarjana/sarjana terapan dan tidak berlaku 
   bagi mereka yang telah menyelesaikan program magister baik dalam maupun luar negeri.
3. Mempunyai Letter of Acceptance (LoA) Unconditional dari Perguruan Tinggi tujuan 
   yang ada dalam daftar LPDP.
4. Jika tidak memiliki LoA Unconditional (a.3), pendaftar wajib memiiki Indeks 
   Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 3,00 pada skala 4 dan memiliki dokumen resmi 
   bukti penguasaan bahasa Inggris yang diterbitkan oleh ETS (www.ets.org) atau 
   IELTS (www.ielts.org) yang masih berlaku atau bahasa asing lainnya 
   yang ditentukan LPDP:
   a. Untuk studi program Magister di dalam negeri, skor minimal: 
      TOEFL ITP® 500/iBT® 61/IELTS™ 6,0/TOEIC® 600.
   b. Untuk studi program Magister di luar negeri, skor minimal: 
      TOEFL ITP® 550/TOEFL iBT® 79/ IELTS™ 6,5/TOEIC® 750. 
   c. Butir a) dan b) dikecualikan bagi mereka yang menyelesaikan pendidikan 
      tinggi yang menggunakan bahasa pengantar akademik bahasa Inggris atau 
      bahasa internasional yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 
      Duplikat ijasah digunakan sebagai pengganti persyaratan TOEFL, dengan 
      masa berlaku 2 (dua) tahun sejak ijasah diterbitkan. 
   d. Untuk studi program Magister di luar negeri pada Perguruan Tinggi yang 
      bahasa pengantar akademiknya non-bahasa Inggris atau bahasa internasional 
      yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dapat menyesuaikan 
      dengan persyaratan kemampuan bahasa yang berlaku. 
5. Jadwal rencana perkuliahan dimulai paling cepat 6 (enam) bulan setelah 
   penutupan pendaftaran di setiap periode seleksi.
6. Sanggup menyelesaikan studi program magister sesuai masa studi yang berlaku, 
   paling lama 2 (dua) tahun,
7. Memiliki dokumen resmi TPA/GRE/GMAT/LSAT (jika ada),
8. Menulis rencana studi sesuai program studi magister pada perguruan tinggi tujuan

Berhubung saat itu jadwal seleksi untuk tahun 2016 belum dipublikasikan dan jadwal periode 4 tahun 2015 terlalu mepet, saya memutuskan akan mendaftar di periode 1 tahun 2016 karena saya ingin mempersiapkan semua berkas terlebih dahulu.

2. Tahap Seleksi Berkas

Akhirnya di pertengahan Januari 2016 jadwal seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016 resmi dipublikasikan. Yang bikin saya kaget adalah, saya hanya punya waktu kira-kira 2-3 minggu untuk mempersiapkan berkas pendaftaran. Untungnya beberapa berkas sudah saya siapkan dari awal Desember jadi tinggal lengkapin pretilan-pretilannya aja.

2.1 TOEFL iBT

Salah satu persyaratan yang belum saya punya adalah hasil tes TOEFL iBT/IELTS. Saya sendiri mengambil tes iBT. Ga ada alasan khusus sih, karena teman ada yang udah tes minggu sebelumnya jadi saya ikutan aja daftar. Untuk mendaftar diperlukan biaya sebesar USD 190. Jer basuki mawa beya, kalo orang jawa bilang. LPDP memang menerima TOEFL ITP yang biaya pendaftarannya +- IDR 300k, tapi sertifikat ini ga diterima universitas luar negeri. Jadi daripada dua kali jalan, akhirnya sekalian aja. Perlu ngambil tes prediction sama kelas persiapan? Kalau yang ini tergantung individu masing-masing. Berhubung saya orangnya hemat (baca: pelit), jadi saya ga ngambil ginian dan langsung ke tes aja. Persiapannya dari kegiatan sehari-hari di kantor aja yang memang sering pakai bahasa Inggris. Buka jenis-jenis soal iBT aja baru H-1 ujian jadi ya emang agak nekat sih waktu itu, huehuehue.

Untuk mendaftar iBT, caranya dengan mendaftar di web ETS. Di sana kita akan menentukan tanggal test kita dan akan mendapat lokasi test setelah kita membayar biaya pendaftaran. Untuk membayar biaya pendaftaran saya menggunakan kartu kredit. Seharusnya ada opsi lain dengan membeli voucher dari penyelenggara iBT di Jakarta, tapi saya belum nyoba. Tips: Rencanakan tes iBT mu jauh-jauh hari! ETS memberikan biaya tambahan untuk pendaftaran dan tes di minggu yang sama (minggu berikutnya juga, mungin? idk, lupa). Untuk amannya kira-kira 2 minggu sebelum tes kita udah harus daftar dan bayar.

Hasil tes dapat kita lihat secara online 2 minggu setelah tes. Hasil ini bisa kita upload ke LPDP sebagai syarat berkas. Tapi untuk verifikasi berkas, saya menggunakan hasil hardcopy resmi dari ETS. Nah, yang menjengkelkan dari ETS ini adalah: hasil resminya dikirim via pos dari kantor mereka di Amerika! Hasilnya butuh berbulan-bulan (bisa 1-2 bulan, tergantung nasib juga, saya nyampe 2 bulan setelah tes). Tips: Bagi yang mengambil iBT, kalian mendapat free copy yang bisa dikirim ke alamat selain alamat rumah kalian. Masukkan alamat yang bisa kita tebengin buat dikirim free copy ini (eg: alamat kantor, alamat orang tua, etc). Tujuannya apa? Kalo ternyata kita cuma masukin satu ke alamat kita dan ternyata pengirimannya bermasalah, paling ga masih ada alamat lain yang bisa diandalkan. Kalau gagal semua ya e-mail ke ETS minta dikirim ulang. Mereka mau kok kirim ulang lagi kalo emang ga nyampe, ga dikenakan biaya (seperti kasus saya). Oh ya, satu hal lagi: jangan sekali-kali memalsukan nilai tes TOEFL kalian! LPDP beneran ngecek apakah hasil tes kalian asli atau palsu. Kalau ketahuan palsu, tanggung sendiri risikonya. Ingat poin berikut: “… Apabila terdapat pemalsuan data atau dokumen maka pendaftar dinyatakan gugur dan tidak berhak mendaftar lagi di LPDP”.

2.2 Surat keterangan berbadan sehat, bebas narkoba dan bebas TBC

Hasil tes TOEFL udah di tangan, sekarang syarat selanjutnya: Surat keterangan berbadan sehat dan bebas narkoba ditambah dengan bebas TBC yang dinyatakan oleh dokter dari Rumah Sakit Pemerintah. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah milik pemerintah. Saya belum nemu daftar lengkap rumah sakit mana aja yang milik pemerintah. Kalau mau rumah sakit yang akan kita ngecek milik pemerintah atau bukan ya googling aja. Saya sendiri mengecek di RSUP Persahabatan karena pertimbangan jarak dari rumah. Datang saja ke IPMT RSUP Persahabatan pada hari kerja untuk meminta surat keterangan ini. Setelah serangkaian tes medis, kita akan di-refer ke unit paru-paru untuk dilakukan Mantoux Test untuk mengecek apakah kita terkena TBC atau tidak. Untuk metode pengecekan tes TBC dari masing-masing rumah sakit bisa berbeda. Teman saya ada yang hanya dilihat hasil X-ray paru-parunya kemudian selesai, tapi ada juga yang makan waktu lama seperti punya saya. Tes Mantoux ini memakan waktu 3-4 hari (lupa persisnya), jadi setelah waktu tersebut kita harus kembali lagi ke rumah sakit untuk minta dibacakan hasil tesnya.

Proses waktu membuat surat sehat dan bebas TBC ini memakan waktu kurang lebih 1 minggu. Untuk biaya yang saya keluarkan mencapai IDR 1 juta.Sebenarnya lama waktu dan jumlah biaya bervariasi di tiap rumah sakit. Kalau ga salah dulu saya sempat dikasih tahu kalau di Fatmawati habisnya kira-kira 800 ribu. Untuk amannya siapkan budget kira-kira 1 juta-an untuk tes kesehatan ini.

2.3 Letter of Acceptance

Syarat berikutnya: LoA. Hmm… sebenarnya ini syarat ga wajib sih, sunnah lah hukumnya. Menurut sepemahaman saya (bisa jadi keliru), LoA ini semacam bukti bahwa kita memiliki kapabilitas untuk melanjutkan studi di universitas yang kita tuju. Kalau ga punya? Ya kita harus punya IPK yang bagus. Mau tidak mau, IPK adalah segalanya, saudara-saudara. Itulah mengapa di syarat pengganti LoA adalah IPK (again, bisa jadi saya yang sotoy). LoA ini kemungkinan juga punya ‘ranking’ seperti IPK, tergantung dari universitas mana yang mengeluarkan dan major-nya apa. Satu hal penting lagi: LPDP hanya menerima LoA dari top 200-an universitas dunia. Cek di sini untuk list lengkapnya. Kalau universitas yang kita mau ga ada di daftar gimana? Kita bisa argue ke LPDP mengapa kita harus mengambil major itu di universitas itu. Tapi itu di tahap setelah kita dinyatakan sebagai awardee lho ya. Kalau untuk tahap awal saya kurang tahu. Saya sendiri waktu mendaftar masih galau milih universitas dan LoA-less (apasih). Akhirnya di bagian LoA ini saya kosongkan.

Oh ya, di tahap pendaftaran kita harus memasukkan jurusan dan universitas tujuan kita. Apakah setelah kita dinyatakan sebagai awardee nanti, kita harus masuk universitas tersebut? Tidak. Ada mekanisme pindah jurusan dan universitas ke LPDP. Saya sendiri tidak mengalami pindah universitas dan jurusan karena yang saya masukkan adalah data science di TU Eindhoven yang sebenarnya salah satu kandidat universitas dan jurusan yang saya inginkan. Mungkin nanti saya akan bikin post tersendiri seputar pilihan universitas saya dan cara mendaftarnya (coming soon kalo ga wacana).

2.4 Surat rekomendasi, surat izin atasan dan surat pernyataan

Syarat berikutnya adalah surat rekomendasi dan surat izin atasan. Tahap ini alhamduliah dilalui dengan mulus. Atasan saya bersedia memberikan izin kepada saya dan saya mendapat rekomendasi dari dosen pembimbing saya saat skripsi dulu (thank you Dita dan Pak Wisnu!). Surat izin ini digunakan nanti ketika kita akan mengikuti PK (persiapan keberangkatan), tahap akhir seleksi setelah dinyatakan lulus tes onsite nanti. Jadi make sure ketika kita akan meminta surat izin, kita harus menjelaskan bahwa suatu saat nanti kita akan absen selama seminggu dari kantor untuk mengikuti proses seleksi beasiswa. Oh ya, ini hanya untuk yang sedang bekerja ya. Untuk yang belum, surat rekomendasinya dari tokoh masyarakat. Tokoh masayarakat yang kayak gimana saya juga kurang paham (Pak RT masuk tokoh masyarakat juga ga sih?). Format kedua surat tersebut bisa dilihat di Booklet Beasiswa LPDP di atas. Selain kedua surat itu, ada juga surat pernyataan yang harus kita tandatangani di atas materai.

2.5 Essay

Mungkin bagian ini yang paling sering ditanyakan orang-orang. “Gimana sih cara bikin essay LPDP? Apa aja yang harus gue tulis? Ada contohnya ga?” Well, jujur saya ga punya tips dan trik mengerjakan essay ini secara saya juga ngerjainnya mepet deadline (mulai ngerjain H-1 tepatnya, yang ini jangan ditiru). Kalaupun saya ngasih kiat-kiat versi saya juga belum tentu cocok diimplementasiin orang lain karena tiap orang punya gaya penulisan dan pikiran yang berbeda-beda. Menurut saya dalam ngerjain essay ini lebih baik jujur saja dan jangan terlalu lebay kalau mengarang bebas. Tapi itu terserah pribadi masing-masing sih, ukuran lebay juga subjektif tiap orang, jadi ya balik lagi ke pribadi masing-masing. Contoh essay banyak, tapi saya ga baca karena saya ga ingin gaya penulisan dan alur penjelasan essay saya kebawa sama dengan punya orang lain. Jangan sekali-kali melakukan plagiarisme! Saya sendiri ga tau apakah essay kita dicek plagiarisme atau tidak oleh pihak LPDP. Tapi saya ga ingin tindakan plagiarisme membudaya seolah-olah menjadi hal yang biasa. Ingat, plagiarisme tindakan serius dalam dunia akademis.

Ada 3 essay yang harus kita tulis: sukses terbesar dalam hidupku, rencana studi dan kontribusiku bagi Indonesia. Essay sukses terbesar, sesuai namanya, kita diberikan kesempatan untuk menceritakan ulang menurut sudut pandang kita. Be yourself, be honest. Essay kontribusi bagi Indonesia, mainly saya menceritakan apa yang bisa saya sumbangkan bagi Indonesia di masa mendatang. Essay ini dibagi menjadi 3 bagian: kontribusi yang telah, sedang dan akan kalian lakukan untuk Indonesia. Nah, untuk rencana studi, sebenarnya ga tau saya mau nulis apa. Akhirnya saya buka kurikulum data science TU/e tahun 2016/2017 dan menceritakan mata kuliah apa aja yang akan saya ambil, topik penelitian apa yang ingin saya dalami dan kegiatan apa saja (akademis dan non-akademis) yang akan saya lakukan nanti saat studi.

2.6 Bonus: SKCK

Sebenarnya berkas ini ga dibutuhin pas kita submit di tahap pengumpulan berkas sih, tapi pas tahap seleksi interview nanti (tahap seleksi onsite). Karena jarak antara pengumuman kelulusan seleksi berkas dan seleksi onsite sangat pendek, ini harus diurus secepat mungkin karena syaratnya ribet. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK, dulu namanya SKKB) adalah surat yang dikeluarkan oleh kepolisian (Polsek ataupun Polresta/Polres). Yang bikin ribet adalah: ini harus dikelurkan oleh Polsek dan Polres di mana KTP kita tercatat, dalam kasus saya Solo! Berarti saya harus pulang untuk ngurus ini plus ngajuin cuti karena ini hanya dilayani saat hari kerja! Katanya sih, bisa diurus di Polres/Polsek tempat kita tinggal, tapi harus ada surat pengantar dari RT. Itupun ga semuanya mau nerima. Jadinya daripada saya buang waktu ngurus di Jakarta yang ga pasti bisa terbit, saya pilih ngurus di kampung.

Untuk membuat SKCK, pertama-tama kita harus mendatangi Polsek daerah kita. Berkas-berkas yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung polsek di mana Anda tinggal. Saya sempat memfoto apa saja yang diperlukan untuk mendapatkan SKS di polsek tempat tinggal saya.

850517833_26301_5076171193572914971

Nah, ada syarat surat keterangan yang disahkan camat, ini yang bikin ribet. Karena kita harus minta surat keterangan dari RT, RW, kelurahan dan terakhir kecamatan. Ya memang begitulah mau tidak mau. Untuk pengurusan di RT, RW, kelurahan dan kecamatan sama seperti kita minta surat pengantar. Sedangkan di polsek, kita tinggal isi formulir, serahkan berkas dan selesai, 30 menit. Sebenarnya, sampai tahap polsek sudah cukup, tapi saya diberi saran oleh ibu polwan yang mengurus SKCK agar membuat SKCK juga di polresta. Saya ga ingin risiko, langsung tancap gas ke polresta. Di polresta, saya kembali mengisi form dan ada pengambilan sidik jari. Kita dapat mengambil SKCK dari polresta di keesokan harinya. Yang bikin saya kecewa adalah SKCK terbitan polsek tidak bisa di bawa pulang. Dengan kata lain, saya menghabiskan 2 hari untuk mengurus SKCK sampai tingkat polresta. Tips: alokasikan (minimal) 1 sampai dengan (maksimal) 2 hari kerja untuk mengurus SKCK ini. Masa berlaku SKCK adalah 6 bulan setelah terbit.`

Semua berkas sudah lengkap, saatnya di-uploadTips: kalau bisa jangan upload file di hari (apalagi jam) terakhir pendaftaran! Alias jangan deadliner. Ada kejadian di deadline pendaftaran periode 4 tahun 2015 saat hari-H, server-nya overload dan gak kuat. Alhamdulilah di 2016 kayaknya gak keulang. Tapi buat jaga-jaga jangan deadliner kalau ngupload. Kira-kira 1,5 minggu dari deadline berkas sudah ada penetapan hasilnya. Begitulah kira-kira pengalaman saya dalam mengurus tahap seleksi berkas. Bonus video: Pengalaman Tasya saat mengurus tahap seleksi berkas LPDP.

Hmm… mungkin cukup sampai di sini dulu untuk post seleksi berkas LPDP. Coming soon:

3. Tahap Verifikasi Berkas, Interview, LGD dan Essay On the Spot

 

One thought on “Perjalanan Mendapatkan Beasiswa LPDP – Part 1: Seleksi Berkas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s